create your own banner at mybannermaker.com!

Minggu, 20 November 2011

ASAL USUL KOTA


ASAL USUL KOTA REMBANG

  Dahulu kala ada seorag saudagar kaya yang bernama Dampo Awang. Dia berasal dari Negara Cina. Dia ingin pergi kesuatu tempat untuk mengajarkan ajaran Kong Hu Cu dengan cara mengarungi samudera bersama para pengawalnya. Suatu hari dia sampai di tanah Jawa bagian timur. Dampa Awang sangat senang akan daerah itu sehingga dia bermaksud untuk berlabuh di sana dan menetap sambil mengembangkan ajaran yang dibawanya. Suatu saat Dampo Awang bertemu dengan Sunan Bonang, Sunan Bonang adalah salah satu wali 9. Wali yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Pada saat pertemuan pertama kali itu, Dampo Awang sudah memperlihatkan sikap kurang baik pada Sunan Bonang. Dampo Awang takut jika ajaran yang selama ini dia ajarkan akan hilang dan digantikan dengan ajaran agama Islam.  Perlu diketahui bahwa Dampo Awang terbiasa ddengan orangawam di Jawa sehingga dia dapat berbahasa dengan baik. Saat Sunan Bonang hendak mendirikan Sholat Ashar. Dampo Awang berfikir untuk mencelakai Sunan Bonang. Dia menyuruh pengawalnya untuk menaruh racun ke air putih dalam kendi yang berada di atas meja. Setelah selesai sholat Sunan Bonang menuju ke meja makan. Dampo Awang mengira bahwa Sunan Bonang akan meminum air dalam kendi tersebut. Tetapi dugaan Dampo Awang keliru, sebenarnya Sunan Bonang mau mengaji. Hari demi hari telah berlalu, setiap selesai sholat Sunan mengaji di teras rumahnya. Setiap orang-orang yang lewat di depan rumahnya dan mendengar suara Sunan saat mengaji dan adzan menjadi kagum akan ayat-ayat Allah. Kemudian banyak penduduk yang memeluk Islam. Lama-kelamaan pengikut Sunan semakin banyak.
Tidak lama kemudian Dampo Awang mendengar peristiwa tersebut dia sangat marah karena pengikutnya semakin berkurang lalu Dampo Awang mengirim pengawalnya untuk menjemput Sunan. Mula-mula Sunan menolak tetapi karena dia merasa kasihan akan pengawal Dampo Awang, jika Sunan tidak ikut mereka akan di pancung. Akhirnya Sunan bersedia untuk datang ke kediaman Dampo Awang. Saat Sunan datang, Dampo Awang menyambutnya dengan ramah. Namun dibelakang keramahan itu Dampo Awang telah merencanakan sesuatu. Dampo Awang  menyuguhi Sunan dengan buah-buahan segar, makanan enak, minuman lezat, dll. Sunan tidak menaruh curiga, padahal Dampo Awang berniat mencelakainya. Saat ditengah perjamuan, tiba-tiba Dampo Awang meminta agar Sunan meningggalkan daerah itu. Tetapi Sunan menolak karea dia sadah berniat mengajarkan agama Islam. Dampo Awang sangat marah mendengar ucapan Sunan. Lalu Dampo Awang menyuruh pengawalnya untuk menyerang Sunan, tetapi dengan waktu yang sangat singkat Sunan dapat mengalahkan para pengawal Dampo Awang. Dampo Awang tidak terima dengan kekalahannya.dia kembali ke negaranya untuk menyusun strategi dan kekuatan baru. Setelah beberapa tahun Dampo Awang kembali lagi ke tanah Jawa sambil membawa pasukan yang lebih banyak. Pada saat sampai ditanah Jawa dia sangat kaget sekali karena semua penduduk di daerah itu sudah menganut agama Islam. Dampo Awang lalu marah dan mencari Sunan. Dampo Awang tidak dapat menahan amarahnya ketika bertemu dengan orang yang dicarinya.
Dan Dampo Awang pun langsung menyerang Sunan, namun Sunan pun dapat mengalahkannya beserta dengan para pengawalnya. Kemudian Dampo Awang diikat didalam kapalnya setelah itu Sunan Bonang menendang kapalnya sehingga seluruh bagian kapalnya tersebar kemana-mana. Setelah itu sebagian kapal terapung di laut. Dampo Awang menyebutnya “kerem (tenggelam)” sedang Sunan Bonang menyebutnya “kemambang (terapung)”. Kemudian lama-kelamaan masyarakat mengucapkan Rembang yang berasal dari kata Kerem dan Kemambang. Akhirnya didaerah itu dinamankan Rembang yang sekarang menjadi salah satu kabupaten yang ada di Jawa Tengah. Jangkarnya sekarang ada di Taman Kartini sedangkan layar kapal berada dibatu atau biasa disebut “watu layar” dan kapalnya dikabarkan menjadi Gunung Bugel yang ada di kecamatan Pancur karena bentunya menyerupai sebuah kapal besar dan diatas gunung ada sebuah makam konon disana merupakan makam Dampo Awang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar